Karya Juara 3 LAN KD

PEMIMPIN DAMBAAN ALA MILENIALS

Gencarnya generasi milenial bersuara di tengah hiruk pikuk kehidupan, pertanda bahwa revolusi generasi sudah layak untuk segera dijalankan. Generasi milenial yang tengah digembor-gemborkan oleh banyak orang ini tengah sibuk berinovasi untuk berevolusi demi kesejahteraan. Kesejahteraan yang didamba pun patut dipimpin oleh pemimpin yang menjadi cermin bagi rakyatnya untuk menuju keharmonisan di masa depan. Milenials tak ingin kejadian suram seperti yang terjadi di masa lampau. Sepuluh tahun memasuki abad ke-21 bangsa dan negara Indonesia mengalami krisis kepemimpinan. Rakyat Indonesia kehilangan kepercayaannya kepada sebagian besar pemimpinnya.

Pemimpin yang berintelek dengan segala visi yang ingin ia capai merupakan kriteria pemimpin idaman. Namun, tanpa wibawa pemimpin tidak akan memiliki daya tarik sehingga ia tidak dapat menguasai dan memengaruhi konstituennya dan akhirnya berimplikasi pada visi yang ingin dikonstruksi menjadi nyata. Seorang pemimpin akan mempunyai wibawa di mata konstituennya jika ia mampu memainkan perannya secara efektif. Tentunya untuk memainkan perannya secara apik akan dibutuhkan integritas dan kredibilitas. Tanpa kedua aspek tersebut, mustahil proses kepemimpinan yang baik akan bisa diwujudkan.

Pemimpin bukan sekadar hanya jabatan, bukan sekadar hanya seberapa banyak ia berbicara, berorasi, menggemparkan visinya namun tak kunjung menjadi nyata. Selain menjadi pemimpin visioner, seorang pemimpin juga harus bertanggung jawab atas keputusan yang ia perbuat. Ia tak boleh lari begitu saja tanpa rasa bersalah saat keputusan yang diambil itu kurang tepat. Hendaknya ia mengayomi anggotanya dengan sepenuh hatinya dengan melakukan pendekatan.

Kritisnya generasi milenial menuntut pemimpin agar berpikiran terbuka, tidak serta merta menelan mentah-mentah berbagai ide, argumen, data, teori dan kesimpulan. Tak mau tergilas zaman, inovasi pemimpin harus tetap berjalan mengingat kita tengah menginjak era disrupsi dengan revolusi industri 4.0 merubah seluruh aspek kehidupan. Roda kepemimpinan harus dinamis, tak boleh statis. Perubahan yang kerap kali menjadi ancaman harus diolah menjadi peluang dengan adanya pemimpin yang cepat tanggap.

Maraknya teknologi yang menawarkan artificial intelligent seperti robot pintar, perilaku serba instan merupakan dampak dari era digitalisasi. Jika seorang pemimpin tidak berupaya mendigitalisasi pekerjaannya di era ini, maka ia akan dianggap tidak adaptif oleh konstituennya. Seperti yang dilansir oleh DDI (Development Dimensions International) dalam penelitiannya di tahun 2016, mayoritas millenial leader menyukai sebuah perusahaan yang fleksibel terhadap jam kerja dan tempat mereka bekerja. Hal ini tentu saja disebabkan karena kecanggihan teknologi yang membuat orang bisa bekerja dimana saja dan kapan saja. Dapat disaksikan bahwa hari ini banyak sekali kedai kopi yang berfungsi sebagai co-working space bertebaran di tempat kita dan sebagian besar pengunjungnya adalah millenials.

Kaum milenial tumbuh beriringan dengan hadirnya media sosial yang membuat mereka terpaut untuk diperhatikan. Mereka akan sangat menghargai dan termotivasi jika diberi kesempatan untuk berargumen dan diakomodasi idenya. Mereka haus akan ilmu pengetahuan, pengembangan diri dan suka berbagi pengalaman. Namun di sisi lain, mereka tidak ragu untuk menuangkan segala keluh kesahnya terhadap media sosial. Maka dari itu, sebagai pemimpin jangan terburu-buru untuk mengklaim kinerja buruk mereka tanpa mengetahui alasan sebenarnya. Pemimpin di era milenial harus menjadi observer dan pendengar aktif yang baik bagi konstituennya.

Kualitas kepemimpinan sangat menentukan kuat tidaknya seorang pemimpin. Adolf Hitler, Mahatma Gandhi, Mao Zedong, Bung Karno, Martin Luther King Jr., dan Nelson Mandela merupakan para pemimpin kuat karena kualitas pribadi disamping mereka muncul dalam latar sosial yang mengharapkan terjadinya perubahan drastis. Bukan berarti pemimpin harus seperti mereka, namun kualitas kepemimpinannya harus diadaptasi. Pemimpin di era milenial ini harus menyesuaikan dengan era yang dihadapinya saat ini, era digitalisasi yang bersifat disruptif.

Kriteria pemimpin yang ideal harus menjadi panutan yang cerdas, merakyat, adil, visioner, berpikiran terbuka, tegas, cepat tanggap serta bertanggung jawab. Disamping kriteria tersebut, pemimpin harus adaptif terhadap perkembangan zaman yang kini serba digital. Pendekatan-pendekatan melalui media sosial dapat menjadi solusi agar harmonisasi tetap terjaga. Dengan demikian, visi yang akan dicapai oleh suatu kelompok akan mudah direalisasikan.

REFERENSI

  • https://www.hipwee.com/list/6-karakter-kepemimpinan-di-era-milenial/ diakses pada 25 Maret 2019
  • https://books.google.com.ua/books?id=l6teDwAAQBAJ&pg=PA20&lpg
    =PA20&dq=urgensi+kredibilitas+pemimpin&source=bl&ots=8Thfcr0np
    S&sig=ACfU3U37uF1fzquqEDRiNnAEtrj6SB8Hgg&hl=en&sa=X&Ved=2
    ahUKEwjgltCYp8XhAhVKKewKHcWMCuwQ6AEwAXoECAkQ AQ#v=
    onepage&q=urgensi%20kredibilitas%20pemimpin&f=false
    diakses pada 21 Maret 2019

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *